BLOG TRAVELLER

SELAMAT DATANG DI BLOG MAS KOMARI

Monday, 2 March 2015

Pendakian Gunung Arjuna


Gunung Arjuna adalah gunung yang berada di Propinsi Jawa Timur tepatnya terletak di Kabupaten Malang dengan ketinggian 3339 mdpl. Letaknya dekat dengan Gunung Welirang.  Gunung Arjuna masih kental dengan aura mistisnya. Hal itu terlihat dengan banyaknya peziarah – peziarah yang melakukan ritual di Gunung Arjuna. Selain itu, banyak petilasan – petilasan peninggalan sejarah Kerajaan Majapahit yang masih ada di GunungArjuna. Seperti petilasan Goa Onto Boego, Eyang Sakri, Eyang Semar dan masih banyak petilasan lainnya yang tidak bisa saya ingat.

Untuk mendaki Gunung Arjuna ada beberapa jalur yang biasa dilalui oleh para pendaki yaitu, jalur Tretes, Lawang, Purwosari dan mungkin masih ada jalur lainnya yang belum saya ketahui. Dan untuk pertama kalinya saya mendaki Gunung Arjuna melalui jalur Purwosari yang berada di Malang.

Rabu malam tanggal 19 Nopember 2014 ada ajakan dari teman – teman Malang untuk polio bareng – bareng di Gunung Arjuna. Dengan penuh godaan dan rayuan manis mereka yang mirip sales deodoran, akhirnya saya tergoda untuk menerima ajakan mereka. Kami merencanakan berangkat hari Jum’at tanggal 21 Nopember 2014 dan berkumpul di Malang.

Esok harinya pun saya menyiapkan amunisi seadanya yang akan di bawa dan tak lupa daleman sebanyak – banyaknya sebagai pelengkap. Jum’at pagi sekitar pukul 05.00 saya berangkat dari Madiun menuju Kota Kediri. Mampir ke rumahnya om Setio Wahab karena berangkatnya ke Malang saya nebeng beliau.  Ada satu teman saya yang dari Ponorogo yang menyusul saya di Kediri. Namanya Al Vian, mantannya teman saya yang hingga saat ini masih belum bisa melupakan kenangan – kenangan masa lalunya.

Pukul 11.00 siang kami bertiga berangkat dari Kediri menuju Malang dengan mengendarai barakuda nya om Setio. Saya duduk di tengah diantara kedua laki – laki yang saya tidak pernah tahu apa yang dalam pikiran mereka. Karena om Setio sering mengurangi gigi perseneling dan menambah gigi perseneling, batangan persenelinganya pun sering mengenai anu saya. Saya pun menikmati anu saya yang kesenggol perseneling setiap di tikungan dan tanjakan. Meskipun kadang terasa nyeri juga.

Sekitar pukul 13.40 kami bertemu para sekutu dari Malang. Ada mas Erick porter kebanggaan kita yang udah biasa memanggul beban hidupnya yang lumayan berat. Mas Eko yang masih setia dengan kejombloannya dari jamannya Meteor Garden hingga entah kapan. Mifta Yuri yang entah siapa dia. Mas Chairil yang sering lari dari kenyataan. Dan dua cewek yang sangat mengidolakan saya, Dewi Dio dan Nurul Inayah alias Enyund (panggilan sayang dari mantan). Jadi  semua pasukan kami ada 9 orang dengan 7 laki – laki normal dan 2 wanita yang insyaallah normal. Setelah semua pasukan berkumpul dan senjata sudah lengkap, kami pun berangkat menuju basecamp Purwosari. Para sekutu dari Malang mengendarai motor dan saya tetap bertiga dengan barakuda nya om Setio.

Gunung Arjuna
Depan Basecamp


Kurang lebih pukul 15.20 kami sampai di basecamp perijinan Purwosari. Kami pun mengecek kembali amunisi yang kami bawa agar tidak ada yang tertinggal. Dan untuk memastikan bahwa daleman saya tidak berkurang satu pun. Setelah yakin amunisi sudah lengkap dan membayar perijinan, kami pun memanggul tas kami masing – masing dan berjalan layaknya gerilyawan perang siap tempur.

Perjalanan awal jalurnya masih landai, melewati hutan pinus yang entah masih perawan atau sudah janda tapi lumayan lebat. Om Setio dengan kamera nya selalu siap membidik untuk mengabadikan setiap langkah kami. Namun, sampai di Goa Onto Boego cuaca mulai mendung dan gerimis turun dari atas ke bawah menuju tanah yang kami injak, kami pun berhenti sejenak di Goa Onto Boego dan menyiapkan jas hujan untuk melindungi diri dari hantaman air hujan yang bisa membuat tubuh basah. Namun tidak semuanya memakai jas hujan karena merasa yakin kalo gerimis akan berhenti.

Goa Onto Boego
Goa Onto Boego


Setelah persiapan jas hujan selesai, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 2 Tampuono. Ditengah perjalanan ternyata hujan air turun lumayan lebat. Dan cuaca saat itu semakin gelap.
“Untung cuma hujan air yaa di sini, bukan hujan harapan palsu” celoteh saya kepada salah satu teman. Saya pun segera memakai jas hujan yang terbuat dari plastik yang saya beli dengan harga 6000 rupiah.

Rombongan kami terpisah menjadi tiga. Dua orang di depan tiga orang ditengah termasuk saya dan empat orang di belakang. Dan saat melewati persimpangan, rombongan saya yang tiga orang sempat bingung karena belum ada yang pernah mendaki di Gunung Arjuna.

“Duhh,., lewat yang mana nich?” tanya teman saya.
“Lhooo,., kamu gak tau jalannya?”
“Aku belum pernah ke sini eg.” Jawab dia.
“Emmmm,. Kamu kalo cebok pake tangan mana?” saya.
“Kiri.” Jawab dia
“Yaudah,. Kita lewat jalur kiri aja.”
“Lhoo kok bisa?” tanya dia kebingungan.
“Lhaa kan kita kalo cebok karena habis mengeluarkan sesuatu, nah sekarang kita yang ingin keluar dari kebingungan ini. Mending kita pilih jalur kiri aja.”

Dan akhirnya kami pun memilih jalur yang kiri dan berjalan terus  melewati genangan – genangan air yang turun dari atas. Jalur kami pun sudah seperti sungai karena hujan yang semakin deras. Kami terus berjalan meskipun kenangan – kenangan saat hujan terus membayang – bayangiku.

Beberapa jam kemudian, kami bertiga sampai di Pos 2 Tampuono. Di sana sudah ada mas Erick dan mas Chairil yang sudah telanjang dada hanya mengenakan celana saja.  Entah apa yang sudah mereka berdua perbuat saya tidak tahu karena saya juga tidak terlalu memikirkan hal itu. Kami istirahat sejenak di Pos Tampuono sambil menunggu rombongan yang belakang dan juga menunggu hujan reda.

Setelah hujan reda, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 5 Mangkutoromo. Jalur dari Pos 2 menuju Pos 5 sudah mulai menanjak.  Dan kondisi tanah yang agak licin membuat kami sering terpeleset. Tapi beda dengan mas Eko yang lebih menyukai sesuatu yang licin dan becek. Kami terus berjalan menanjak ditengah kegelapan malam. Dan keindahan kota Malang di malam hari bisa kami lihat dari atas. Pemandangan yang sangat menajkubkan bagi kami meskipun saat sore tadi di guyur hujan air.

Kurang lebih 3 jam an berjalan menyusuri hutan Gunung Arjuno, kami pun sampai di Pos 5 Mangkutoromo. Saya datang belakangan sendiri karena terlalu lama istirahat. Saat itu angin lumayan kencang dan saat menuju sebuah gubuk yang ada di Pos 5 saya disambut ucapan selamat datang dengan bahasa yang tidak saya mengerti.
“Guggg,.,.guggg,.,gugggg,.,gugggg” yaa.,., seekor anjing menggonggong ke saya.
Saya pun menjawab, “please dech njing,...kalo ngomong itu pake bahasa manusia aja biar aku bisa mengerti.”gerutu saya kemudian masuk ke dalam gubuk dan bergabung dengan teman saya yang sudah sampai duluan dan menghangatkan tubuhnya di pinggiran api yang dibuat oleh penghuni gubuk tersebut.

Di Pos 5 Mangkutoromo ini ada bapak – bapak yang tinggal di gubuk ini. Bisa dibilang semacam juru kunci gitu. Tapi bukan juru kunci yang suka membuat kunci motor atau kunci yang lainnya. Namanya Pak To, rambutnya gondrong dan berkumis.Beliau suka bercerita tentang sejarah Gunung Arjuno. Kami pun memutuskan untuk beristirahat di Pos 5 dan melanjutkan perjalanan menuju puncak besok pagi. Sambil beristirahat kami mendengarkan cerita – cerita dari Pak To. Namun hari semakin malam, rasa ngantuk menggoda kami untuk menutup mata.

Tak terasa hari sudah pagi, tapi tak terdengar suara ayam berkokok hanya ada suara kentut orang di sebelah ku yang tanpa dosa mengeluarkannya dengan nada tenor. Saya segera bangun dan keluar dari gubuk untuk menikmati sunrise pagi itu. Kata Pak To di deket Pos 5 ini ada ada sumber air namanya Sendang Widodaren. Dari Pos 5 ke selatan turun sedikit. Saya pun pergi ke sana untuk cuci muka ngambil air untuk masak.

Pos 5 Mangkutoromo
Pos 5 Mangkutoromo
Sendang Widodaren
Sendang Widodaren


Rencananya pagi itu kita summit sekitar jam 6 an pagi selesai sarapan. Namun beberapa teman kami masih belum bangun dari tidurnya. Akhirnya kami summit sekitar pukul 8.00 pagi. Semua perlengkapan camping kami tinggal di Pos 5 dan dititipkan ke Pak To. Kami hanya membawa air dan makanan secukupnya untuk ke puncak. Dari Pos 5 menuju puncak jalur nya menanjak terus. Perkiraan kami, perjalanan menuju puncak sekitar 6 jam. Ternyata sampai 7 jam kami belum juga sampai. Kami terus berjalan menyusuri hutan ditemani anjing hitam yang bernama Zhi. Anjing yang udah lama hidup di Indonesia namun belum bisa bahasa Indonesia. Entahlah,.....!!!

Zhi
Ada Anjing


Sekitar pukul pukul 15.00 cuaca mulai mendung, kami baru sampai di bawah Puncak Arjuno. Saat itu gemuruh dari langit meledek kami dengan suara yang tak berirama. Saya sendiri sempat tengkurap karena tiba – tiba kilat menyambar – menyambar. Beberapa teman kami berteduh di bawah pohon pinus, saya pun ikut mereka berteduh di situ. Tanpa pemberitahuan tiba – tiba  suatu pancaran putih dari langit menyambar kami yang ada di bawah pohon.
“Derrrrrrrrrr,., “
“Tiarap ,.,tiarapp.,.,. Belanda menyerang, siap posisi 4-3-3”.
Saya pun tiarap dan berlari menuju ke bawah batu besar yang ada di sebelah kami.
“Huhhhh,., petir yang genit, kenal aja belum tapi udah berani colak – colek.” Gerutu saya. Kemudian hujan mengguyur, kami pun berteduh di bawah batu besar dan menggelar terpal untuk melindungi kami dari air hujan . Sambil menunggu hujan reda, kami memasak air dan mencampurnya dengan bubuk kopi untuk penghangat tubuh kami yang mulai kedinginan.

Selang beberapa jam akhirnya hujan reda, namun kami bingung mau melanjutkan atau kembali turun.
“Udah reda nich, kita lanjut naik apa turun lagi?”tanya salah satu teman.
“Kalo naik takutnya ntar kesamber petir lagi”.
“Yaudah, kita naik aja dulu. Nanti kalo udah di sana tak kasih tau ada petir lagi atau enggak. Okey ???” jawab aku

Kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke Puncak Arjuna. Namun saat itu cuaca sangat kabut dan menghalangi pemandangan kami.
“But kabut, mbok yoo minggir bentar gitu lhooo, biarkan baginda lewat dulu.” Suara keluar dari mulut biadab saya. Namun kabut tak juga mau pergi tetap menghalangi cuaca sore saat itu. Sebelum sampai puncak, hujan kembali mengguyur kami. Behhhh,.,.,,.lumayan dingin lah. Namun kami tetep nekat ke Puncak hanya sekedar foto – foto alakadarnya.  Cuaca kabut, gerimis, hujan pun PHP pada kami. Kadang hujan kadang reda, hujan lagi , reda lagi, lagi hujan, lagi reda. Behhhhhhhhhhh,.,.,

Puncak Arjuna
Saat di Puncak Arjuna





1 comment:

resep umiku said...

wih ada ya tempat kayak gini, akses jalannya bagus gak kak?