BLOG TRAVELLER

SELAMAT DATANG DI BLOG MAS KOMARI

Wednesday, 18 March 2015

Mau Lagi Diajak ke Candi Cetho


Akhir Pebruari kemarin teman saya dari Tangerang berkunjung ke Madiun tempat tinggal saya. Dia jauh – jauh dari Tangerang cuma pengen main ke Candi Cetho yang ada di Karanganyar Jawa Tengah tepatnya di bawah lereng Gunung Lawu. Entah pikiran apa yang telah merasukinya hingga rela mengajukan cuti di tempat kerjanya untuk berkunjung ke Candi Cetho. Saat searching di google dia tergoda dengan foto - foto Candi Cetho yang banyak ditemukan di google. Dia pun meminta saya untuk mengantarkannya ke sana.

Tanggal 19 Pebruari tepatnya pas hari libur memperingati Tahun Baru Imlek dia sampai di Terminal Purboyo Madiun. Saya pun menjemputnya dan sebelum berangkat ke CandiCetho kami mampir pom bensin karena dia belum sempat mandi selama perjalanan naik bis. Setelah membersihkan diri di pom bensin kami mampir ke warung makan untuk mengisi perut kami yang belum terisi dari pagi.

Selesai makan kami langsung berangkat menuju Candi Cetho yang ada di Karanganyar lewat Magetan. Meskipun saya pernah sekali ke Candi Cetho namun saya agak lupa jalan menuju ke sana. Saat sampai di Karanganyar di dekat Patung Semar, saya berhenti dan bertanya kepada salah satu warga. Saya pun mematikan motor kemudian turun dari motor. Karena jika kita tidak mematikan motor dan tidak turun dari motor bisa jadi kita dikasih petunjuk yang salah karena kita dianggap tidak sopan.
“Mas, kalo mau ke Candi Cetho jalannya kemana?”
“Ohh.. lurus aja mas, nanti ada pertigaan belok kanan terus lurus aja ikutin jalan nanti ada plang yang menunjukkan arah candi Cetho mas nya bisa mengikuti plang tersebut.”

Ternyata saya tidak nyasar, setelah Patung Semar kita lurus hingga sampai pertigaan kemudian belok kanan. Di sini sudah banyak petunjuk jalan atau plang yang menunjukkan arah menuju ke Candi Cetho. Kita tinggal mengikuti plang – plang tersebut.

Jalan menuju Candi Cetho agak berbelok – belok, banyak tanjakan dan turunan tajam. Jadi bagi pengendara motor diharapkan untuk berhati – hati saat melalui jalan tersebut. Di sepanjang perjalanan menuju Candi Cetho kita akan disuguhi pemandangan indah kaki Gunung Lawu.  

Ini kapan sampainya, kok lama banget sich?” gerutu teman saya.
“Udah nikmatin aja perjalanannya, pemandangannya kan juga bahenol.”

Sebelum sampai ke Candi Cetho kita akan melewati Kebun Teh Kemuning yang pemandangannya tak kalah indah. Namun kita juga tetap hati – hati karena jalanan yang berbelok – belok.

CandiCeto berada di ujung jalan tepatnya di Desa Gumeng yang berada di Kecamatan Jenawi. Di wilayah Candi Cetho kita akan menemui rumah – rumah penduduk yang mirip penduduk di Pulau Bali. Karena mayoritas penduduk di wilayah Candi Cetho beragama Hindu.

Setelah memarkirkan kendaraan, saya langsung menuju ke Candi Cetho. Namun sebelum masuk ke kita wajib membayar tiket masuk sekitar Rp. 3000 (murah sekaliii). Selain itu kita wajib memakai kain yang bercorak kotak – kotak seperti papan catur yang dipinjamkan oleh pengelola Candi Cetho dan membayar seikhlasnya. Hal tersebut dimaksudkan untuk menjaga kesakralan yang ada di Candi Cetho karena tempat ini merupakan tempat ibadah umat Hindu dan masih digunakan hingga sekarang.

Hari itu sangat ramai pengunjung yang datang ke Candi Cetho meskipun cuaca saat itu sedang hujan dan sering berkabut. Saya pun  masuk ke Candi Cetho dan melihat sebuah papan yang menginformasikan tentang Candi Cetho tersebut. Dalam papan tersebut tertuliskan bahwa Candi Cetho tersebut pertama kali dikenal berdasarkan laporan penelitian Van de Vlies tahun 1842. Kemudian pada tahun 1975/1976 Sudjono Humardani melakukan pemugaran terhadap Kompleks Candi Tetho dengan dasar “perkiraan” bukan pada kondisi asli. Kemungkinan Candi Cetho dibangun pada masa Kerajaan Majapahit.

Candi Cetho Ramai Pengunjung
Candi Cetho Ramai Pengunjung
Setelah membaca – baca informasi yang ada di papan tersebut kami melanjutkan untuk naik dan masuk ke halaman yang lumayan luas melalui gapura candi tersebut. Di halaman yang luas ini terdapat beberapa batu yang berbentuk kura – kura besar. Dari halaman ini, jika cuaca tidak berkabut kita juga bisa melihat pemandangan gunung yang berjejer seperti Gunung Merapi dan Merbabu di sebelah barat Candi Cetho.


Bale - bale di Candi Cetho
Bale - bale di Candi Cetho

Di atas halaman utama terdapat dua bale – bale atau bangunan seperti pendopo yang berada di kanan dan kiri. Tapi ironisnya saat berada di sini saya menemui muda – mudi yang tanpa malu bermesra – mesraan di tempat umum seperti ini. Saya pun menghampiri mereka dan coba mengingatkannya.

“Hayooooo… pacarannya jangan di sini mas, nanti cepat putus lho”.

Mereka pun sempat tertawa tetapi menerima saran saya dan berjauhan dengan pasangannya. Karena tempat ini merupakan tempat ibadah sangat disayangkan jika digunakan untuk hal – hal yang tidak sopan seperti pacaran.

Kemudian saya naik menuju puncak Candi Cetho yang terdapat bangunan mirip piramida yang ada di Mesir. Untuk masuk ke dalam bangunan yang berada di puncak Candi Cetho, pengunjung diharapkan untuk melepas alas kaki nya. Untuk menjaga kebersihan dan kesucian bangunan candi.


Bangunan di Puncak Candi Cetho
Bangunan di Puncak Candi Cetho


View dari Puncak Candi Cetho
View dari Puncak Candi Cetho

Di dalam kompleks Candi Cetho juga terdapat Candi Ketek yang letaknya kurang lebih 300 meter ke utara dari Candi Cetho. Kita hanya membayar Rp. 1000 untuk tiket masuk Candi Kethek. Untuk ke sana kita harus melewati jalan setapak yang sedikit licin jika habis hujan dan kita harus hati – hati karena di pinggir jalan setapak tersebut terdapat jurang. Namun sepanjang perjalanan menuju Candi Kethek kita akan disuguhi pemandangan hutan khas gunung Lawu yang asri. Namun tidak banyak pengunjung yang mengunjungi Candi Kethek.  Mungkin karena harus jalan lebih jauh lagi atau memang belum tahu tentang keberadaan Candi Kethek.

Petunjuk Jalan ke Candi Ketek
Petunjuk Jalan ke Candi Ketek
Jalan menuju Candi Kethek
Jalan menuju Candi Kethek

Di depan bangunan Candi Kethek juga terdapat papan informasi yang menerangkan tentang Candi Kethek. Nama Kethek atau dalam bahasa Indonesia berarti Kera diberikan oleh masyarakat sekitar karena banyak kera yang terdapat di sekitar Candi Kethek. Waktu pertama kali ke sini saya juga menjumpai beberapa kera di sepanjang jalan menuju Candi Kethek.

Candi Kethek
Candi Kethek
Menurut informasi yang saya baca di papan informasi tersebut, kemungkinan pendirian Candi Kethek sama dengan beberapa candi di sekitarnya seperti Candi Cetho dan Candi Sukuh yang didirikan sekitar abad ke XV – XVI. Struktur bangunan pada Candi kethek juga serupa dengan stuktur bangunan pada Candi Cetho. Di puncaknya terdapat sebuah altar untuk pemujaan atau sembahyang umat Hindu.

Puncak di Candi Kethek
Puncak di Candi Kethek

Setelah mengunjungi Candi Kethek saya sempatkan untuk mampir ke Puri Taman Saraswati yang masih berada di wilayah kompleks Candi Cetho. Letaknya berada di atas Candi Cetho. Jika kita dari Candi Kethek maka ada di sebelah kiri jalan setapak.

Selain untuk wisata masyarakat umum, Puri Taman Saraswati ini juga masih digunakan oleh masyarakat umat Hindu untuk bersembahyang. Jadi saat memasuki Puri Taman Saraswati pengunjung harus melepas alas kaki yang dipakai.

Halaman utama Puri Taman Saraswati cukup luas berlantaikan keramik, namun kita harus berhati – hati karena lantai lumayan licin jika habis turun hujan. Di sana terdapat patung Dewi Saraswati yang cantik dan memiliki empat tangan. Keempat tangan tersebut memiliki arti yang berbeda yaitu tentang ego, pikiran, intelektual serta mawas diri. Menurut informasi patung tersebut langsung dari Gianyar Bali. Selain patung tersebut juga ada Sendang Pundi Sari serta altar pemujaan.

Puri Taman Saraswati
Puri Taman Saraswati


Jadi jika berwisata ke Candi Cetho kita bisa langsung ke tiga tempat sekaligus yaitu Candi Cetho, Candi Kethek dan Puri Taman Saraswati yang ketiga nya mengandung nilai sejarah. Selain berwisata alam kita juga bisa belajar tentang sejarah masa lampau yang berada di Nusantara pada umumnya dan sejarah di Karanganyar khususnya. Dari candi – candi tersebut kita bisa tahu bahwa dahulunya penduduk Pulau Jawa mayoritas beragama Hindu.



Tulisan ini diikut sertakan dalam Lomba Blog Visit Jawa Tengah Periode 2 


3 comments:

Fahmi Anhar said...

saya malah belum kesampaian kesini mas, padahal dulu 4 tahun hidup di solo... hzzzz...

Yusmei said...

Sudah lama tidak dolan ke sana. Ternyata sekarang pengunjung harus pakai kain itu ya :D

Mas Komari said...

silahkan mampir gan